09 September 2008

Waspada Bahan Plastik Pembungkus Makanan

2008-09-09 10:50:00

NEW YORK-- Para ilmuwan melaporkan fakta baru mengenai penggunaan bahan kimia bisphenol A (BPA) pada produksi kemasan plastik makanan dan minuman. Penggunaan BPA meskipun dengan dosis rendah dapat merusak fungsi otak primata. Fakta tersebut diungkap melalui penelitian lanjutan yang sebelumnya dilakukan pada tikus.

Bisphenol A adalah bahan kimia sintetis yang ditemukan di dalam produk plastik keras dan bening seperti pada kemasan makanan dan minuman. Jumlah BPA yang larut di dalam kemasan makanan dan minuman menjadi resiko rusaknya lingkungan.

"Model primata menunjukan BPA dapat menyebabkan dampak negatif pada fungsi otak manusia," ujar Tibor Hajszan, peneliti dari Fakultas kedokteran Universitas Yale, New Haven dilansir kantor berita Reuters, baru-baru ini.

Hajszan dan tim peneliti menguji pengaruh penggunaan BPA secara terus-menerus setiap hari. Dosis yang digunakan berdasarkan anjuran minimal penggunaan dari Lembaga perlindungan lingkungan hidup Inggris (EPA) sebanyak 50mg/kg pada monyet afrika.

Berdasarkan laporan dari Nasional Akademi Sains minggu ini, BPA merusak total hubungan bebarapa syaraf pada dua kunci otak yaitu hippocampus dan prefrontal cortex. Temuan itu menjadi indikasi BPA mempengaruhi syaraf otak manusia pada kesadaran dan keadaan jiwa.

"Berdasarkan penemuan ini, kami rasa EPA harus membuat kebijakan mengenai limit penggunaan BPA pada proses prroduksi," ujar Hajszan. (cr1/ri)
http://republika. co.id/launcher/ view/mid/ 19/news_id/ 1970

MILESTONES

This is a general outline of the milestones on the road to reading and the ages at which most kids reach them.
Keep in mind that kids develop at different paces and spend varying
amounts of time at each stage. If you have concerns, talk to your
child's doctor, teacher, or the reading specialist at school. Early
intervention is key in helping kids who are struggling to read.
Infancy (Up to Age 1)
Children usually begin to:
* imitate sounds they hear in language
* respond when spoken to
* look at pictures
* reach for books and turn the pages with help
* respond to stories and pictures by vocalizing and patting the pictures
Toddlers (Ages 1-3)
Children usually begin to:
* answer questions about and identify objects in books - such as "Where's the cow?" or "What does the cow say?"
* name familiar pictures
* use pointing to identify named objects
* pretend to read books
* finish sentences in books they know well
* scribble on paper
* know names of books and identify them by the picture on the cover
* turn pages of board books
* have a favorite book and request it to be read often
Early Preschool (Age 3)
Children usually begin to:
* explore books independently
* listen to longer books that are read aloud
* retell a familiar story
* recite the alphabet
* begin to sing the alphabet with prompting and cues
* make continuous symbols that resemble writing
* imitate the action of reading a book aloud
Late Preschool (Age 4)
Children usually begin to:
* recognize familiar signs and labels, especially on signs and containers
* make up rhymes or silly phrases
* recognize and write some of the letters of the alphabet
* read and write their names
* name letters or sounds that begin words
* match some letters to their sounds
* use familiar letters to try writing words
Kindergarten (Age 5)
Children usually begin to:
* understand rhyming and play rhyming games
* match some spoken and written words
* understand that print is read from left to right, top to bottom
* write some letters and numbers
* recognize some familiar words
* predict what will happen next in a story
* retell stories that have been read to them
First and Second Grade (Ages 6-7)
Children usually begin to:
* read familiar stories
* sound out or decode unfamiliar words
* use pictures and context to figure out unfamiliar words
* use some common punctuation and capitalization in writing
* self-correct when they make a mistake while reading aloud
* show comprehension of a story through drawings
Second and Third Grade (Ages 7-8)
Children usually begin to:
* read longer books independently
* read aloud with proper emphasis and expression
* use context and pictures to help identify unfamiliar words
* understand the concept of paragraphs and begin to apply it in writing
* correctly use punctuation
* correctly spell simple words
* write notes, like phone messages and email
* enjoy games like word searches
* use new words, phrases, or figures of speech that they've heard
* revise their own writing
Fourth Through Eighth Grade (Ages 9-13)
Children usually begin to:
* explore and understand different kinds of texts, like biographies, poetry, and fiction
* understand and explore expository, narrative, and persuasive text
* read to extract specific information, such as from a science book
* identify parts of speech and devices like similes and metaphors
* correctly identify major elements of stories, like time, place, plot, problem, and resolution
* read and write on a specific topic for fun, and understand what style is needed
* analyze texts for meaning
Reviewed by: Gail S. Diederich, MS
Date reviewed: August 2007

Bencana dalam Makanan Kedaluwarsa

Selasa, 9 September 2008 | 09:32 WIB

JANGAN anggap remeh makanan yang sudah kedaluwarsa. Sebab, makanan yang kedaluwarsa merupakan salah satu penyebab utama terjadinya keracunan.

Sebagai konsumen kita harus selalu teliti sebelum membeli. Kerusakan pangan dapat menyebabkan keracunan bagi konsumennya. Selain membuat konsumen pusing, mual, diare, sesak napas, dan kematian akibat keracunan, mengonsumsi dalam waktu yang lama makanan yang sudah kedaluwarsa dapat menyebabkan kanker.
Pn yang dapat terjadi pada produk makanan dan berpotensi keracunan.

Produk Serealia
Produk-produk serealia yang rusak (tidak layak dan tidak aman) umumnya ditandai oleh perubahan warna dan tumbuhnya serangga (kutu). Perubahan warna yang terjadi pada serealia mungkin disebabkan terjadinya oksidasi terhadap lemak, khususnya terhadap asam lemak tidak jenuh. Hal tersebut akan didukung oleh munculnya aroma tengik pada bahan.
Bahan pangan dari serealia yang telah mengalami oksidasi lemak mungkin akan mengandung peroksida atau turunannya berupa aldehid dan keton. Senyawa-senyawa tersebut apabila dikonsumsi dalam jumlah besar dan terus-menerus dapat mengakibatkan kanker.

Kacang-kacangan
Produk kacang-kacangan dikatakan rusak apabila telah ditumbuhi kapang. Pertumbuhan kapang pada produk kacang-kacangan dimungkinkan karena kapang masih dapat tumbuh pada bahan berkadar air rendah. Kapang yang tumbuh pada kacang-kacangan dapat memproduksi mikotoksin, misalnya Aspergillus flavus pada kacang tanah yang menghasilkan racun aflatoksin. Mikotoksin juga diduga kuat bersifat karsinogenik (penyebab kanker) terhadap hati dan bersifat kumulatif dalam jaringan lemak tubuh. Hal ini berarti bahwa mikotoksin tidak dapat dihancurkan di dalam tubuh.

Akumulasi mikotoksin dalam suatu bahan pangan juga akan berdampak pada akumulasi mikotoksin pada bahan lain. Contohnya, sapi yang diberi pakan kacang-kacangan yang mengandung aflatoksin, akan memproduksi susu yang juga mengandung aflatoksin.
Mikotoksin merupakan senyawa yang sangat berbahaya dan keberadaannya tidak dapat dideteksi secara visual. Mikotoksin dapat saja terkandung dalam kacang-kacangan, sekalipun kapang yang menumbuhinya telah dibersihkan. Oleh karena itu, jangan mengonsumsi kacang-kacangan yang telah ditumbuhi kapang walaupun dalam jumlah sedikit.

Produk Susu
Kerusakan produk susu masih dapat dideteksi dengan pemantauan visual. Produk susu segar (umumnya dikemas plastik atau karton), apabila kedaluwarsa, akan menimbulkan aroma yang agak masam.

Untuk susu segar yang dikemas plastik, akan terlihat adanya pemisahan emulsi dan perubahan warna. Lemak susu akan mengapung, terdapat gumpalan-gumpalan protein, dan akan terlihat pemisahan air. Susu kedaluwarsa sering juga disebut sebagai susu basi yang ditandai oleh kenaikan viskositas (kekentalan) susu.

Secara fisik, kemasan susu juga akan tampak kembung karena diproduksinya gas oleh mikroba-mikroba patogen sebagai hasil samping fermentasi. Fermentasi yang terjadi pada susu segar bukanlah reaksi yang menguntungkan, melainkan akan menyebabkan rasa dan aroma masam yang dapat menyebabkan diare. Mikroba yang mungkin merusak susu adalah Escherichia coli, Streptococcus, dan Staphylococcus.

Produk dalam Kaleng
Kerusakan produk dalam kaleng memang sukar terlihat, tetapi dapat terdeteksi dengan adanya kerusakan pada badan kaleng itu sendiri. Penyimpangan pada kaleng misalnya adalah berkarat. Kaleng yang berkarat dapat menandakan waktu penyimpanan yang lama, selain itu kondisi penyimpanannya juga mungkin tidak sesuai, misalnya udara yang terlalu lembab.

Kaleng yang berkarat pada bagian luarnya mungkin juga telah berkarat pada bagian dalamnya. Karat atau biasa disebut korosi merupakan reaksi oksidasi besi (Fe) yang melepaskan besi oksida (FeO2). Besi oksida dapat bereaksi dengan bahan yang dikemas dalam kaleng. Reaksi umumnya menghasilkan perubahan warna pada pangan.

Jika pangan termasuk berasam tinggi atau mengandung belerang (sulfida), perubahan warnanya akan mengarah kehitaman karena terbentuk besi sulfida (FeS). Perubahan lain yang terjadi akibat reaksi besi oksida dengan pangan adalah perubahan aroma dan kekentalan. Aroma pangan akan berubah menjadi aroma busuk dan agak berbau besi.

Kaleng yang gembung mengandung potensi bahaya mikrobiologis. Umumnya disebabkan oleh kurang sempurnanya proses exhausting (proses penghampaan) , penyegelan, dan sterilisasi. Hal ini berarti terdapat udara di dalam kaleng dan kondisi kaleng tidak vakum.

Udara yang terdapat di dalam kaleng kemungkinan masih mengandung mikroba yang dapat mengontaminasi pangan karena bersifat patogen. Udara tersebut juga dapat menyebabkan perkaratan kaleng dari bagian dalam. Kevakuman kaleng sangat berpengaruh terhadap sterilitasnya. Sterilitas berkaitan langsung dengan umur simpan.

Kevakuman kaleng menandakan kondisi hampa udara pada bagian dalam kaleng. Hampa udara artinya tekanan udara dalam kaleng amat rendah. Jika terjadi benturan yang menyebabkan kaleng penyok, kemungkinan kaleng tersebut mengandung bahaya mikrobiologis. Bahaya dapat terjadi apabila penyok membentuk lekukan bersudut dalam.

Kaleng merupakan bahan yang tidak fleksibel. Oleh karena itu, lekukan dapat menyebabkan retakan atau lubang kecil. Lubang atau retakan tersebut merupakan jalan masuk yang sangat baik bagi udara serta mikroba patogen dan pembusuk.

Udara dan mikroba mudah masuk karena tekanan udara di luar kaleng lebih tinggi daripada tekanan udara di dalam kaleng. Udara yang masuk dapat menyebabkan korosi dan mikroba (seperti Eschericia coli, Staphylococcus aureus) dapat menyebabkan kebusukan dan penurunan mutu pangan.

Penyok pada bagian luar kaleng juga dapat menyebabkan keretakan pada enamel. Keutuhan enamel sangat penting karena enamel merupakan bahan pelapis pada bagian dalam kaleng yang menghambat reaksi kaleng dengan bahan pangan. Apabila enamel retak atau terkelupas, reaksi antara kaleng dan bahan pangan dapat terjadi. Reaksi tersebut juga dapat menimbulkan korosi kaleng.

Produk Pangan Beku
Produk pangan beku merupakan produk yang memiliki umur simpan tinggi apabila diberi perlakuan penyimpanan yang benar. Penyimpanan terbaik harus dilakukan dalam freezer bersuhu -20° C (20° C di bawah nol). Namun, dalam kenyataan sehari-hari di rumah tangga, freezer yang ada hanya bersuhu -5° hingga 0° C. Hal inilah yang melatarbelakangi dicantumkannya beberapa tanggal kedaluwarsa pada produk pangan beku menurut suhu penyimpanannya.

Produk pangan beku juga merupakan produk yang memiliki potensi bahaya mikrobiologi yang rendah. Hal ini disebabkan sebagian besar mikroba inaktif pada suhu beku. Dalam penggunaan produk beku, terdapat anjuran untuk tidak terlalu sering membekukan dan thawing (pelunakan produk beku). Apabila produk tidak akan dimasak seluruhnya, sebaiknya hanya sebagian saja yang dikeluarkan dari freezer. Apabila produk sudah terekspos dengan udara dan tidak segera dimasak, kualitasnya dikhawatirkan akan menurun, serangan berbagai mikroba juga akan terjadi.

Produk Pasta dan Saus
Produk-produk pasta dan saus umumnya memiliki umur simpan yang tinggi. Sebab, walaupun memiliki kadar air tinggi, aktivitas airnya rendah. Hal ini yang menyebabkan sedikitnya jenis bakteri yang mampu menyerang produk-produk pasta dan saus. Meskipun demikian, masih ada golongan mikroba yang dapat menyerang, seperti kapang dan kamir. Peluang serangan kapang lebih besar daripada khamir. Serangan kapang, seperti telah dijelaskan pada bagian serealia dan kacang-kacangan, dapat menyebabkan tumbuhnya mikotoksin yang berpotensi menimbulkan kanker apabila dikonsumsi secara terus-menerus.

Produk Pangan Kering
Produk pangan kering sebagian besar memiliki kadar air yang rendah sehingga lebih tahan terhadap serangan bakteri, terlebih apabila pengemasan dan penyimpanannya baik. Potensi kerusakan terjadi terutama pada produk kering yang disimpan terlalu lama. Selain timbul bau tengik akibat oksidasi lemak, produk juga akan menjadi lunak karena peningkatan kadar air. Dalam keadaan demikian produk akan mudah ditumbuhi kapang.

Untuk mecegah penurunan mutu setelah kemasan dibuka, sebaiknya produk-produk kering disimpan dalam wadah kedap udara sehingga terhindar dari kontak dengan uap air dan udara. Jumlah yang disimpan sebaiknya tidak berlebihan untuk memperkecil peluang penyimpanan yang terlalu lama.

Penulis: Prof DR Made Astawan, Dosen di Departemen Teknologi Pangan dan Gizi IPB

http://www.kompas. com/read/ xml/2008/ 09/09/09320940/ bencana.dalam. makanan.kedaluwa rsa

Cermat Menghindari Produk Kedaluwarsa
Selasa, 9 September 2008 | 09:48 WIB

SUPAYA terhindar dari risiko keracunan akibat makanan kedaluwarsa, konsumen sebaiknya lebih cermat dan bijak dalam pemilihan produk. Pemilihan bahan baku yang baik juga sangat penting artinya karena hal ini merupakan salah satu kunci untuk menghindari kasus keracunan.

Betapapun canggihnya proses produksi, tidak akan mampu menutupi buruknya kualitas bahan baku. Kita sebaiknya selalu mengingat pepatah yang berbunyi garbage in-garbage out (GIGO), yang berarti bahan baku yang jelek pasti akan menghasilkan produk akhir yang jelek pula.

Sedapat mungkin kita harus memilih produk pangan yang masih jauh dari batas kedaluwarsa, terutama untuk produk yang kemungkinan akan mengalami penyimpanan sebelum digunakan. Selain itu, kita juga senantiasa harus mencermati ciri-ciri fisik produk atau kemasannya.

Penentuan Kedaluwarsa
Penentuan batas kedaluwarsa dapat dilakukan dengan metode-metode tertentu. Penentuan batas kedaluwarsa dilakukan untuk menandai umur simpan (shelf life) produk. Penentuan umur simpan didasarkan atas faktor-faktor yang memengaruhi umur simpan produk pangan.

Faktor-faktor tersebut misalnya adalah keadaan alamiah (sifat makanan), mekanisme berlangsungnya perubahan (misalnya kepekaan terhadap air dan oksigen), serta kemungkinan terjadinya perubahan kimia (internal dan eksternal). Faktor lain adalah ukuran kemasan (volume), kondisi atmosfer (terutama suhu dan kelembaban), serta daya tahan kemasan selama transit dan sebelum digunakan terhadap keluar masuknya air, gas, dan bau.

Umumnya produsen akan mencantumkan batas kedaluwarsa sekitar dua hingga tiga bulan lebih cepat dari umur simpan produk yang sesungguhnya. Hal ini dilakukan untuk menghindarkan dampak-dampak merugikan terhadap konsumen, apabila batas kedaluwarsa itu benar-benar terlampaui.

Tujuan lainnya adalah memberi tenggang waktu bagi produsen untuk menarik produk-produknya yang telah melampaui batas kedaluwarsa dari para pengecer atau tempat penjualan agar konsumen tidak lagi membeli produk tersebut. Hal tersebut dilakukan agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada konsumen, seperti keracunan makanan.

Istilah-istilah Kedaluwarsa
Dalam perdagangan, jangka waktu kedaluwarsa memiliki beberapa istilah. Istilah-istilah lain yang sering digunakan adalah: "baik digunakan sebelum" (best before), "gunakan sebelum" (use by atau expiry date), "batas sebelum penarikan" (pull date), "tanggal dikemas" (pack date), "tanggal masuk toko" (sell by date), dan "tanggal pemajangan" (display date).

"Baik digunakan sebelum" (best before) memiliki makna bahwa suatu produk pangan sebaiknya dikonsumsi sebelum tanggal yang tercantum karena tanggal tersebut merupakan batas optimal produsen dapat menjamin kelayakan produk untuk dikonsumsi. Kalimat "Baik digunakan sebelum" umumnya dicantumkan pada produk-produk yang memiliki umur simpan tinggi, seperti produk-produk konfeksioneri (permen, cokelat, chocolate bar) dan minuman beralkohol.

"Gunakan sebelum" (use by atau expiry date) memiliki makna bahwa produk pangan harus dikonsumsi maksimal pada tanggal yang tercantum. Tanggal yang tercantum merupakan batas maksimum produsen dapat menjamin bahwa produk tersebut belum rusak dan masih layak untuk dikonsumsi. Setelah tanggal tersebut, diduga kualitas produk sudah tidak dapat diterima oleh konsumen. Kalimat "Gunakan sebelum" umumnya dicantumkan pada produk-produk yang mudah rusak dan umur simpannya rendah, seperti susu (susu segar dan susu cair), daging, serta sayur-sayuran.

"Batas sebelum penarikan" (pull date) merupakan cara lain untuk memberi informasi mengenai "gunakan sebelum". Kalimat "Batas sebelum penarikan" menandakan tanggal terakhir yang dianjurkan bagi konsumen untuk membeli produk tersebut, sehingga masih mempunyai jangka waktu untuk mengonsumsinya tanpa produk tersebut mulai mengalami kerusakan. Setelah tanggal tersebut, suatu produk akan ditarik dari pengecer dan toko-toko karena dianggap mutunya akan segera menurun dan jika tidak ditarik akan menimbulkan kerugian bagi konsumen.

"Tanggal dikemas" (pack date) merupakan informasi yang berupa tanggal pada saat produk dikemas, baik pengemasan oleh produsen maupun oleh pengecer. Contoh produk yang diberi pencantuman pack date adalah sayur curah atau buah potong dalam kemasan yang dijual di supermarket.

"Tanggal masuk toko" (sell by date) merupakan informasi yang berupa tanggal pada saat produk memasuki gudang penyimpanan di toko atau tempat penjualan lainnya.
"Tanggal pemajangan" (display date) berisi informasi tanggal pada saat produk mulai dipajang di rak-rak atau display di toko atau tempat penjualan lainnya.

Teknik pencantuman batas kedaluwarsa dengan menggunakan kalimat pack date, sell by date, dan display date di atas, umumnya dilakukan pada produk-produk yang umur simpannya telah diketahui konsumen secara luas. Teknik ini memaksa konsumen untuk lebih aktif dalam mengetahui umur simpan produk hingga batas aman dikonsumsi.

Teknik-teknik pencantuman batas kedaluwarsa tersebut umum dilakukan di negara-negara maju karena tingkat pemahaman dan kepedulian mereka yang sangat tinggi terhadap keamanan pangan. Teknik-teknik tersebut masih kurang populer diterapkan di Indonesia.

Penulis: Prof DR Made Astawan, Dosen di Departemen Teknologi Pangan dan Gizi IPB

http://www.kompas. com/read/ xml/2008/ 09/09/09480083/ cermat.menghidar i.produk. kedaluwarsa

BUMIL DAN BUSUI, QADHA/FIDYAH?

Assalamu 'alaikum. Wr. Wb
Ustad yang dirahmati Allah. pertanyaan yang ingin saya sampaikan
adalah mengenai puasa. Wanita hamil atau menyusui termasuk dalam salah
satu golongan yang mendapat keringanan untuk tidak puasa ramadhan.
Yang ingin saya tanyakan adalah mengenai penggantiannya apakah
dengan puasa di hari lain, atau membayar fidyah atau bahkan dua-duanya
(membayar puasa dan fidyah)?
Jazakallah atas jawabannya.
Wassalamu 'alaikumWr. WbAhmed

Jawaban
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Masalah wanita yang sedang hamil atau menyusui memang tidak ada nash
yang sharih untuk menetapkan bagaimana mereka harus mengganti puasa
wajib. Yang ada nashnya dengan tegas adalah orang sakit, musafir dan
orang tua renta yang tidak mampu lagi berpuasa.
Orang sakit dan musafir dibolehkan untuk tidak puasa, lalu sebagai
konsekuensinya harus mengganti (qadha') dengan cara berpuasa juga,
sebanyak hari yang ditinggalkannya.
Sedangkan orang yang sudah sangat tua dan tidak mampu lagi untuk
berpuasa, boleh tidak berpuasa namun tidak mungkin baginya untuk
mengqadha (menganti) dengan puasa di hari lain. Maka Allah SWT
menetapkan bagi mereka untuk membayar fidyah, yaitu memberi makanan
kepada fakir miskin sebagai satu mud.
Dalil atas kedua kasus di atas adalah firman Allah SWT:
Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam
perjalanan, maka (dibolehkan berbuka dengan mengganti puasa) sebanyak
hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi
orang-orang yang berat menjalankannya membayar fidyah, (yaitu) memberi
makan seorang miskin. (QS. Al-Baqarah: 184)
Bagaimana dengan wanita hamil dan menyusui, apakah mereka mengganti
dengan puasa atau dengan bayar fidyah? Atau malah kedua-duanya? Para
ulama berbeda pendapat dalam hal ini.
Jumhur Ulama
Di dalam kitab Kifayatul Akhyar, disebutkan bahwa masalah wanita
hamil dan menyusui dikembalikan kepada motivasi atau niatnya. Kalau
tidak puasa karena mengkhawatirkan kesehatan dirinya, maka dianggap
dirinya seperti orang sakit. Maka menggantinya dengan cara seperti
mengganti orang sakit, yaitu dengan berpuasa di hari lain.
Sebaliknya, kalau mengkhawatirkan bayinya, maka dianggap seperti
orang tua yang tidak punya kemampuan, maka cara menggantinya selain
dengan puasa, juga dengan cara seperti orang tua, yaitu dengan membayar
fidyah. Sehingga membayarnya dua-duanya.
Pendapat Ibnu Umar dan Ibnu Abbas
Namun menurut Ibnu Umar dan Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, wanita
yang hamil atau menyusui cukup membayar fidyah saja tanpa harus
berpuasa. Karena keduanya tidak berpuasa bukan karena sakit, melainkan
karena keadaan yang membuatnya tidak mampu puasa. Kasusnya lebih dekat
dengan orang tua yang tidak mampu puasa.
Dan pendapat kedua shahabat ini mungkin tepat bila untuk menjawab
kasus para ibu yang setiap tahun hamil atau menyusui, di mana mereka
nyaris tidak bisa berpuasa selama beberapa kali ramadhan, lantaran
kalau bukan sedang hamil, maka sedang menyusui.
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lchttp://eramuslim. com/ustadz/ shm/7828115313- wanita-hamil- dan-menyusui- membayar- puasa-atau- fidyah.htm

07 September 2008

DEMAM

Sumber : sehatgroup.web.id

APAKAH DEMAM ITU?

Tubuh kita memiliki hipotalamus anterior di otak yang bertugas mengatur agar suhu tubuh stabil (termostat) yaitu berkisar 37 +/- 1 derajat selsius.
Pengukuran Suhu

Suhu di daerah dubur (temperatur rektal) paling mendekati suhu tubuh sebenarnya (core body temperature). Suhu di daerah mulut atau ketiak (aksila) sekitar 0,5 sampai 0,8 derajat lebih rendah dari suhu rektal, dengan catatan setelah pengukuran selama minimal 1 menit. Tidak dianjurkan mengukur (“menebak”) suhu tubuh berdasarkan perabaan tangan (tanpa mempergunakan termometer)
Fisiologi Demam (Bagaimana Demam Terjadi)

Demam biasanya terjadi akibat tubuh terpapar infeksi mikroorganisme (virus, bakteri, parasit). Demam juga bisa disebabkan oleh faktor non infeksi seperti kompleks imun, atau inflamasi (peradangan) lainnya. Ketika virus atau bakteri masuk ke dalam tubuh, berbagai jenis sel darah putih atau leukosit melepaskan “zat penyebab demam (pirogen endogen)” yang selanjutnya memicu produksi prostaglandin E2 di hipotalamus anterior, yang kemudian meningkatkan nilai-ambang temperatur dan terjadilah demam. Selama demam, hipotalamus cermat mengendalikan kenaikan suhu sehingga suhu tubuh jarang sekali melebihi 41 derajat selsius.

DAMPAK DEMAM
Dampak Menguntungkan terhadap Fungsi Imunitas (Daya Tahan) Tubuh

Beberapa bukti penelitian ‘in-vitro’ (tidak dilakukan langsung terhadap tubuh manusia) menunjukkan fungsi pertahanan tubuh manusia bekerja baik pada temperatur demam, dibandingkan suhu normal. IL-1 dan pirogen endogen lainnya akan “mengundang” lebih banyak leukosit dan meningkatkan aktivitas mereka dalam menghambat pertumbuhan mikroorganisme. Demam juga memicu pertambahan jumlah leukosit serta meningkatkan produksi/fungsi interferon (zat yang membantu leukosit memerangi mikroorganisme).

Dampak Negatif

Pertama, kemungkinan dehidrasi (kekurangan cairan tubuh). Ketika mengalami demam, terjadi peningkatan penguapan cairan tubuh sehingga anak bisa kekurangan cairan.

Kedua, kekurangan oksigen. Saat demam, anak dengan penyakit paru-paru atau penyakit jantung-pembuluh darah bisa mengalami kekurangan oksigen sehingga penyakit paru-parau atau kelainan jantungnya infeksi saluran napas akut (Isakan semakin berat.

Ketiga, demam di atas 42 derajat selsius bisa menyebabkan kerusakan neurologis (saraf), meskipun sangat jarang terjadi. Tidak ada bukti penelitian yang menunjukkan terjadinya kerusakan neurologis bila demam di bawah 42 derajat selsius.

Terakhir, anak di bawah usia 5 tahun (balita), terutama pada umur di antara 6 bulan dan 3 tahun, berada dalam risiko kejang demam (febrile convulsions), khususnya pada temperatur rektal di atas 40 derajat selsius. Kejang demam biasanya hilang dengan sendirinya, dan tidak menyebabkan gangguan neurologis (kerusakan saraf). Lihat guideline kejang demam.

Demam seringkali disertai dengan gejala lain seperti sakit kepala, nafsu makan menurun (anoreksia), lemas, dan nyeri otot. Sebagian besar di antaranya berhubungan dengan zat penyebab demam tadi.

DEMAM PADA INFEKSI VIRUS

Demam pada bayi dan anak umumnya disebabkan oleh infeksi virus. Pada demam yang disertai sariawan, ruam cacar, atau ruam lainnya yang mudah dikenali, virus sebagai penyebab demam dapat segera disimpulkan tanpa membutuhkan pemeriksaan khusus. Demam ringan juga dapat ditemukan pada anak dengan batuk pilek (common colds), dengan rinovirus salah satu penyebab terseringnya. Penyebab lain demam pada anak adalah enteritis (peradangan saluran cerna) yang disebabkan terutama oleh rotavirus.

Penyakit yang disebabkan virus adalah self-limiting disease (akan berakhir dan sembuh dengan sendirinya).
Demam pada Infeksi Bakteri

Di antara demam yang disebabkan oleh infeksi bakteri pada anak, salah satu yang paling sering ditemukan adalah infeksi saluran kemih (ISK). Umumnya tidak disertai dengan gejala lainnya. Risiko paling besar dimiliki bayi yang berusia di bawah 6 bulan.

Infeksi bakteri yang lebih serius seperti pneumonia atau meningitis (infeksi selaput otak) juga dapat menimbulkan gejala demam. Namun demikian persentasenya tidaklah besar. Dari bayi > 3 bulan dan anak 1-3 tahun dengan demam > 39C, hanya 2% (1–3.6%) saja yang bakterinya sudah memasuki peredaran darah (bakteremia).

Pada golongan usia ini, program imunisasi HiB berhasil menurunkan risiko meningitis bakterial secara sangat signifikan. S. pneumoniae (penyebab utama infeksi bakteri yang cukup serius) hanya ditemukan pada < 2 % populasi. Dan sebagian besar anak dalam golongan usia ini dapat mengatasi S. pneumoniae tanpa antibiotika. Hanya 10 %-nya yang berlanjut menjadi pneumonia yang lebih berat dan 3-6 % menjadi meningitis.

Usia yang menuntut kewaspadaan tinggi orangtua dan dokter adalah usia di bawah 3 bulan. Bayi harus menjalani pemeriksaan yang lebih teliti karena 10 %-nya dapat mengalami infeksi bakteri yang serius, dan salah satunya adalah meningitis. Untuk memudahkan penilaian risiko tersebut, Rochester menetapkan beberapa poin untuk mengidentifikasi risiko rendah infeksi bakteri serius pada bayi yang demam. Kriteria Rochester ini adalah:

* Bayi tampak baik-baik saja
* Bayi sebelumnya sehat :
* Lahir cukup bulan (≥ 37 minggu kehamilan)
* Tidak ada riwayat pengobatan untuk hiperbilirubinemia (kuning) tanpa sebab yang jelas
* Tidak ada riwayat pengobatan dengan antibiotika
* Tidak ada riwayat rawat inap
* Tidak ada penyakit kronis atau penyakit lain yang mendasari demam
* Dipulangkan dari tempat bersalin bersama / sebelum ibu
* Tidak ada tanda infeksi kulit, jaringan lunak, tulang, sendi, atau telinga
* Nilai laboratorium sebagai berikut :
* Leukosit 5000 – 15000/µl
* Hitung jenis neutrofil batang 1500/µl
* ≤10 leukosit/LPB di urin
* ≤ 5 eritrosit (sel darah merah)/LPB pada feses bayi dengan diare

Walaupun diketahui bahwa sebagian besar penyebab demam adalah infeksi virus, namun data menunjukkan bahwa justru sebagian besar tenaga medis mendiagnosisnya sebagai infeksi bakteri. Dalam satu penelitian di Amerika Serikat, persentase ini mencapai 56 %. Dan pada penelitian yang sama masih ditemukan adanya pemberian antibiotik pada demam yang belum jelas diidentifikasi penyebabnya (virus atau bakteri).

EFEK OBAT PEREDA DEMAM (ANTIPIRETIK)

Sebuah penelitian melaporkan relawan dewasa yang secara sukarela diinfeksi virus Rhinovirus dan diterapi dengan aspirin dosis terapetik (dosis yang lazim digunakan dalam pengobatan), lebih cenderung menjadi sakit dibandingkan yang mendapatkan plasebo. Hasil serupa (meski tidak signifikan), dilaporkan dengan penggunaan aspirin dan parasetamol. Lebih lanjut, penggunaan kedua obat ini, ditambah ibuprofen, meningkatkan penyumbatan di hidung (obstruksi nasal) dan menekan respon antibodi Penelitian-penelitian lain belum menunjang temuan ini.

Pada sebuah survei terhadap 147 anak dengan infeksi bakteri, tidak ada perbedaan lama rawat inap pada mereka yang diberi dua atau lebih obat antipiretik, dibandingkan yang menerima satu, atau sama sekali tidak diberi antipiretik.

Sebuah penelitian randomized terhadap anak-anak demam yang diduga akibat virus, menunjukkan parasetamol tidak mengurangi lamanya demam dan tidak menghilangkan gejala-gejala yang terkait. Namun demikian, parasetamol membuat anak sedikit lebih aktif dan lebih bugar.

REKOMENDASI TATA LAKSANA DEMAM
Pengobatan dengan Antipiretik
Mekanisme Kerja

Parasetamol, aspirin, dan obat anti inflamasi non steroid (OAINS) lainnya adalah antipiretik yang efektif. Bekerja dengan cara menghambat produksi prostaglandin E2 di hipotalamus anterior (yang meningkat sebagai respon adanya pirogen endogen).
Parasetamol

Parasetamol adalah obat pilihan pada anak-anak. Dosisnya sebesar 10-15 mg/kg/kali.

Parasetamol dikonjugasikan di hati menjadi turunan sulfat dan glukoronida, tetapi ada sebagian kecil dimetabolisme membentuk intermediet aril yang hepatotoksik (menjadi racun untuk hati) jika jumlah zat hepatotoksik ini melebihi kapasitas hati untuk memetabolismenya dengan glutation atau sulfidril lainnya (lebih dari 150 mg/kg). Maka sebaiknya tablet 500 mg tidak diberikan pada anak-anak (misalnya pemberian tiga kali tablet 500 mg dapat membahayakan bayi dengan berat badan di bawah 10 kg). Kemasan berupa sirup 60 ml lebih aman.

Aspirin

Merupakan antipiretik yang efektif namun penggunaannya pada anak dapat menimbulkan efek samping yang serius. Aspirin bersifat iritatif terhadap lambung sehingga meningkatkan risiko ulkus (luka) lambung, perdarahan, hingga perforasi (kebocoran akibat terbentuknya lubang di dinding lambung). Aspirin juga dapat menghambat aktivitas trombosit (berfungsi dalam pembekuan darah) sehingga dapat memicu risiko perdarahan). Pemberian aspirin pada anak dengan infeksi virus terbukti meningkatkan risiko Sindroma Reye, sebuah penyakit yang jarang (insidensinya sampai tahun 1980 sebesar 1-2 per 100 ribu anak per tahun), yang ditandai dengan kerusakan hati dan ginjal. Oleh karena itu, tidak dianjurkan untuk anak berusia < 16 tahun.

Obat Anti Inflamasi Non Steroid (OAINS)

Jenis OAINS yang paling sering digunakan pada anak adalah ibuprofen. Dosis sebesar 5-10 mg/kg/kali mempunyai efektifitas antipiretik yang setara dengan aspirin atau parasetamol. Sama halnya dengan aspirin dan OAINS lainnya, ibuprofen bisa menyebabkan ulkus lambung, perdarahan, dan perforasi, meskipun komplikasi ini jarang pada anak-anak. Ibuprofen juga tidak direkomendasikan untuk anak demam yang mengalami diare dengan atau tanpa muntah.

Jenis Lainnya

Turunan pirazolon seperti fenilbutazon dan dipiron, efektif sebagai antipiretik, tetapi jauh lebih toksik (membahayakan).
Terapi Suportif

UPAYA SUPORTIF YANG DIREKOMENDASIKAN

Tingkatkan asupan cairan (ASI, susu, air, kuah sup, atau jus buah). Minum banyak juga mampu menjadi ekspektoran (pelega saluran napas) dengan mengurangi produksi lendir di saluran napas. Jarang terjadi dehidrasi berat tanpa adanya diare dan muntah terus-menerus.. Hindari makanan berlemak atau yang sulit dicerna karena demam menurunkan aktivitas lambung.

Kenakan pakaian tipis dalam ruangan yang baik ventilasi udaranya. Anak tidak harus terus berbaring di tempat tidur)tetapi dijaga agar tidak melakukan aktivitas berlebihan.

Mengompres atau anak dengan air hangat dapat dilakukan jika anak rewel merasa sangat tidak nyaman, umumnya pada suhu sekitar 40 selsius. Mengompres dapat dilakukan dengan meletakkan anak di bak mandi yang sudah diisi air hangat. Lalu basuh badan, lengan, dan kaki anak dengan air hangat tersebut.

Umumnya mengompres anak akan menurunkan demamnya dalam 30-45 menit. Namun jika anak merasa semakin tidak nyaman dengan berendam, jangan lakukan hal ini.

UPAYA SUPORTIF YANG TIDAK DIREKOMENDASIKAN

Upaya ‘mendinginkan’ badan anak dengan melepaskan pakaiannya, memandikan atau membasuhnya dengan air dingin, atau mengompresnya dengan alkohol. Jika nilai-ambang hipotalamus sudah direndahkan terlebih dahulu dengan obat, melepaskan pakaian anak atau mengompresnya dengan air dingin justru akan membuatnya menggigil (dan tidak nyaman), sebagai upaya tubuh menjaga temperatur pusat berada pada nilai-ambang yang telah disesuaikan. Selain itu alkohol dapat pula diserap melalui kulit masuk ke dalam peredaran darah, dan adanya risiko toksisitas.

KESIMPULAN

Pandangan masyarakat akan demam terus berubah. Kini demam dianggap sebagai respon ‘sehat’ terhadap penyakit dan dianggap wajar. Pengobatan secara ‘agresif’ harus dibuktikan oleh bukti-bukti ilmiah. Sehingga terapi yang rasional adalah menenangkan pasien dan tenaga kesehatan, serta meyakinkan bahwa merekalah yang ‘mengendalikan’ penyakit anaknya, bukan ‘dikendalikan’ penyakit.

Upaya menangani demamnya bukanlah prioritas utama. Tindakan pertama adalah mengidentifikasi adakah infeksi bakteri (pneumonia, otitis media, faringitis streptokokus, meningitis, atau sepsis), dan kalau perlu merujuk ke RS untuk tindakan selanjutnya.

Baik orangtua maupun tenaga kesehatan seharusnya tidak otomatis memberikan obat pereda demam pada semua anak demam. “Tangani anaknya, bukan termometernya”. Usaha meredakan demam lebih ditujukan mengatasi ketidaknyamanan anak (jika memang signifikan), dan biasanya diperoleh melalui pemberian parasetamol secara oral pada anak yang hanya mengalami demam tinggi saja. Hal ini akan menciptakan layanan kesehatan (dan keluarga) yang efisien semata-mata ditujukan bagi kebaikan anak, menekankan pada upaya mencari penyebab serta melalui usaha mengurangi polifarmasi yang tidak perlu, serta memprioritaskan pengobatan esensial saja.
Catatan: Panduan / guideline ini dapat senantiasa mengalami perubahan seiring dengan ditemukannya perkembangan ilmiah terkini, dan adanya guideline terbaru yang dapat diadaptasi.

BATUK

Anak-anak dapat mengalami 6-12 infeksi saluran pernapasan (ISPA) dalam setahun, umumnya disertai batuk. Pada sebagian besar anak, batuk akan berhenti dengan sendirinya dalam 1-3 minggu, walaupun kadang dapat lebih lama. Secara umum, jika seorang anak mengalami batuk setiap hari selama lebih dari 3 minggu, beberapa kemungkinan penyebab selain ISPA harus dipertimbangkan:

* Anak mungkin memiliki kelainan pada saluran pernapasannya, misal: tracheo-esophageal fistula (adanya saluran penghubung antara trakea/saluran napas dan kerongkongan/saluran makan).
* Benda asing yang tersangkut di saluran napas merupakan kemungkinan penyebab lainnya, terutama pada batita.
* Asma atau rinitis kronis (reaksi peradangan hidung yang terus menerus berlangsung).
* Merokok atau faktor psikologis dapat menjadi penyebab batuk kronis pada remaja.

Perlu diingat bahwa batuk dengan banyak dahak tidak umum ditemui pada anak-anak dan perlu diteliti penyebabnya.

DIAGNOSIS

Untuk menentukan penyebab batuk, beberapa hal penting untuk diperhatikan. Yang pertama tentunya perlu dibedakan apakah batuk ini dialami terus menerus atau kambuh kembali setelah sempat sembuh. Mulainya batuk juga penting diketahui, misalnya batuk yang sangat tiba-tiba tanpa gejala lain mungkin menandakan adanya benda asing yang tersangkut di saluran napas. Jenis dan pola batuk juga dapat memberi petunjuk dalam menentukan penyebab batuk. Misalnya batuk yang dialami dalam serangan-serangan yang tidak terkontrol (paroxysmal) mungkin disebabkan pertusis, chlamydia, atau benda asing. Batuk yang menghilang selama tidur dapat menandakan bahwa batuk yang dialami hanyalah karena kebiasaan (habit cough). Gejala lain yang menyertai batuk juga sangat menolong dalam upaya ini karena beberapa penyakit memiliki gejala-gejala yang cukup khas, misalnya: sinusitis, rinitis kronis, atopi, atau asma. Selain itu, paparan terhadap asap rokok juga merupakan faktor penting pada anak dengan keluhan batuk.
Pada pemeriksaan fisik, ada tidaknya tanda kekurangan oksigen (hipoksia) yang berlangsung kronis harus diteliti, misalnya: gagal tumbuh dan clubbing (kondisi akibat hipoksia kronis di mana batas kuku dengan kulit jari menjadi datar jika dilamati dari samping dan jari terlihat lebih lebar). Selain itu tentunya tanda-tanda lain seperti demam, napas yang cepat, mengi, dan bunyi napas yang tidak simetris juga harus diperhatikan.
Pemeriksaan lebih lanjut seperti pemeriksaan laboratorium atau X-ray hanya dibutuhkan pada kasus-kasus tertentu.

PENANGANAN

Jika anak dalam keadaan sehat dan pemeriksaan fisiknya normal, yang perlu dilakukan hanyah menghindari paparan terhadap zat yang mengiritasi seperti asap rokok. Tidak ada bukti yang menunjukkan peran obat penekan batuk, dekongestan, anti alergi, atau antibiotik pada penanganan batuk dalam kasus seperti ini. Kunjungan follow-up ke dokter dapat dilakukan dalam 2-3 minggu.
Anak yang tidak terlihat sehat atau yang pemeriksaan fisiknya tidak normal membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut seperti dapat dilihat pada flow chart berikut ini:
Anak dengan batuk lebih dari 3 minggu
¯
Apakah riwayat/pemeriksaan fisik normal? ®Ya. Hindari iritan, follow-up.
¯
¯Tidak
¯
Apakah riwayat/pemeriksaan fisik mengarah pada pertusis? ®Ya. Penanganan pertusis
¯
¯Tidak
¯
Apakah riwayat/pemeriksaan fisik mengarah pada asma? ®Ya. Penanganan asma
¯
¯Tidak
¯
Apakah riwayat/pemeriksaan fisik mengarah pada benda asing? ®Ya. Penanganan benda asing
¯
¯Tidak
¯
Apakah riwayat/pemeriksaan fisik mengarah pada sinusitis? ® Ya. Penanganan sinusitis
¯
¯Tidak
¯
Lakukan X-ray dada dan pemeriksaan lain yang dibutuhkan.

Merokok Memang Haram

Ditulis Oleh Rizki Wicaksono
02-09-2008,

Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, merokok haram hukumnya
berdasarkan makna yang terindikasi dari zhahir ayat Alquran dan
As-Sunah serta i'tibar (logika) yang benar.

Allah berfirman di surat Al-Baqarah ayat 195 yang artinya, "Dan
janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri dalam kebinasaan."

Maknanya, janganlah kamu melakukan sebab yang menjadi kebinasaanmu.
Wajhud dilalah (aspek pendalilan) dari ayat di atas adalah merokok
termasuk perbuatan yang mencampakkan diri sendiri ke dalam kebinasaan.

Sedangkan dalil dari As-Sunah adalah hadis shahih dari Rasulullah SAW
bahwa beliau melarang menyia-nyiakan harta. Makna menyia-nyiakan harta
adalah mengalokasikannya kepada hal-hal yang tidak bermanfaat.
Sebagaimana dimaklumi bahwa mengalokasikan harta dengan membeli rokok
adalah termasuk pengalokasian harta pada hal yang tidak bermanfaat,
bahkan pengalokasian harta kepada hal-hal yang mengandung
kemudharatan.

Dalil yang lain, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, "tidak boleh
(menimbulkan) bahaya dan tidak boleh pula membahayakan orang lain."
(HR. Ibnu Majah dari kitab Al-Ahkam 2340).

Jadi, menimbulkan bahaya adalah hal yang tidak diberlakukan dalam
syari'at, baik bahaya terhadap badan, akal, ataupun harta. Sebagaimana
dimaklumi pula bahwa merokok adalah berbahaya terhadap badan dan
harta.

Adapun dalil dari i'tibar yang benar yang menunjukkan keharaman rokok
adalah karena dengan perbuatan itu perokok mencampakkan dirinya ke
dalam hal yang menimbukan bahaya, rasa cemas, dan keletihan jiwa.
Orang yang berakal tentu tidak rela hal itu terjadi pada dirinya
sendiri.

Para perokok selalu merasa cemas dan tidak tenang bila tidak menghisap
zat bernikotin itu. Alangkah berat ia melakukan puasa dan
ibadah-ibadah lainnya karena hal itu akan menghalagi dirinya dari
merokok. Bahkan, alangkah berat dirinya berinteraksi dengan
orang-orang saleh karena tidak mungkin mereka membiarkan asap rokok
mengepul di hadapan mereka.

Semua i'tibar itu menunjukkan bahwa merokok hukumnya diharamkan.
Karena itu, saya mengajak saudara-saudara kaum muslimin yang masih
didera oleh kebiasaan menghisap rokok agar memohon pertolongan kepada
Allah dan mengikat tekad untuk meninggalkannya. Sebab, di dalam tekad
yang tulus disertai dengan memohon pertolongan kepada Allah, mengharap
pahala dari-Nya dan menghindari siksaan-Nya, semua itu adalah amat
membantu di dalam upaya meninggalkan hal tersebut.

Jika ada orang yang berkilah, sesungguhnya kami tidak menemukan nash,
baik di dalam kitabullah ataupun sunah Rasulullah SAW perihal haramnya
rokok, maka cobalah simak penjelasan di bawah ini sebagaimana
tercantum dalam Program Nur 'alad Darb, dari Fatwa Syekh Muhammad bin
Shaleh Al-Utsaimin, dari kitab Fatwa-Fatwa Terkini 2.

Nash-nash Alquran dan sunah terdiri dari dua jenis;
1. Jenis yang dalil-dalilnya bersifat umum seperti Adh-Dhawabith
(ketentuan-ketentua n) dan kaidah-kaidah yang mencakup rincian-rincian
yang banyak sekali hingga hari kiamat.

2. Jenis yang dalil-dalilnya memang diarahkan kepada suatu itu sendiri
secara langsung. Sebagai contoh untuk jenis pertama adalah ayat
Alquran dan dua hadis yang kami sebutkan di atas yang menunjukkan
keharaman merokok secara umum meskipun tidak diarahkan secara langsung
kepadanya. Misalnya, fiman Allah dalam surat Al-Maidah ayat 3 yang
artinya, "Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi,
(daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah."

Jadi, baik nash-nash itu termasuk jenis pertama atau kedua, semua
hamba Allah tetap harus mematuhinya, karena dari sisi pengambilan
dalil mengindikasikan hal itu.

Masih ada beberapa ulama lain yang juga mengharamkan merokok.
Syaikh Muhammad bin Ibrahim
Rokok haram karena di dalamnya ada racun. Al-Qur'an menyatakan,
"Dihalalkan atas mereka apa-apa yang baik, dan diharamkan atas mereka
apa-apa yang buruk (kotoran)." (al-A'raf: 157). Rasulullah juga
melarang setiap yang memabukkan dan melemahkan, sebagaimana
diriwayatkan Imam Ahmad dan Abu Dawud dari Ummu Salamah RA. Merokok
juga termasuk melakukan pemborosan yang tidak bermanfaat. Selanjutnya,
rokok dan bau mulut perokok bisa mengganggu orang lain, termasuk pada
jamaah shalat.

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab
Rokok haram karena melemahkan dan memabukkan. Dalil nash tentang benda
memabukkan sudah cukup jelas. Hanya saja, penjelasan tentang mabuk itu
sendiri perlu penyesuaian.

Ulama Mesir, Syria, Saudi
Rokok haram alias terlarang, dengan alasan membahayakan. Di antara
yang mendukung dalil ini adalah Syaikh Ahmad as-Sunhawy al-Bahuty
al-Anjalaby dan Syaikh Al-Malakiyah Ibrahim al-Qaani dari Mesir,
An-Najm al-Gazy al-Amiry as-Syafi'i dari Syria, dan ulama Mekkah Abdul
Malik al-Ashami.

Dr Yusuf Qardhawi
Rokok haram karena membahayakan. Demikian disebut dalam bukunya 'Halal
& Haram dalam Islam'. Menurutnya, tidak boleh seseorang membuat bahaya
dan membalas bahaya, sebagaimana sabda Nabi yang diriwayatkan Ahmad
dan Ibnu Majah. Qardhawi menambahkan, selain berbahaya, rokok juga
mengajak penikmatnya untuk buang-buang waktu dan harta. Padahal lebih
baik harta itu digunakan untuk yang lebih berguna, atau diinfaqkan
bila memang keluarganya tidak membutuhkan.

Keharaman rokok tidaklah berdasarkan sebuah larangan yang disebutkan
secara ekplisit dalam nash Al-Quran Al-Kariem atau pun As-Sunnah
An-Nabawiyah. Keharaman rokok itu disimpulkan oleh para ulama di masa
ini setelah dipastikannya temuan bahwa setiap batang rokok itu
mengandung lebih dari 4000 jenis racun berbahaya. Dan karena racun itu
merusak tubuh manusia yang sebenarnya amanat Allah SWT untuk dijaga
dan diperlihara, maka merokok itu termasuk melanggar amanat itu dan
merusak larangan.

Namun banyak orang yang menganggap hal itu terlalu mengada-ada, sebab
buktinya ada jutaan orang di muka bumi ini yang setiap hari merokok
dan buktinya mereka masih bernafas alias tidak langsung mati seketika
itu juga.

Karena itulah kita masih menemukan rokok di sekeliling kita dan
ternyata pabrik rokokpun tetap berdiri tegar. Bahkan mampu memberikan
masukan buat pemerintah dengan pajaknya. Sehingga tidak pernah muncul
keinginan baik dari pembuat hukum untuk melarang rokok.

Ini adalah salah satu ciri ketertinggalan informasi dari masyarakat
kita. Dan di negeri yang sudah maju informasinya, merupakan bentuk
ketidak-konsekuenan atas fakta ilmu pengetahuan. Dan kedua jenis
masyarakat ini memang sama-sama tidak tahu apa yang terbaik buat
mereka. Misalnya di barat yang konon sudah maju informasinya dan
ipteknya, masih saja ada orang yang minum khamar. Meski ada larangan
buat pengemudi, anak-anak dan aturan tidak boleh menjual khamar kepada
anak di bawah umur. Tapi paling tidak, sudah ada sedikit kesadaran
bahwa khamar itu berbahaya. Hanya saja antisipasinya masih terlalu
seadanya.

Sedangkan dalam hukum Islam, ketika sudah dipastikan bahwa sesuatu itu
membahayakan kesehatan, maka mengkonsumsinya lantas diharamkan. Inilah
bentuk ketegasan hukum Islam yang sudah menjadi ciri khas. Maka khamar
itu tetap haram meski hanya seteguk ditelan untuk sebuah malam yang
dingin menusuk.

Demikian pula para ulama ketika menyadari keberadan 4000-an racun
dalam batang rokok dan mengetahui akitab-akibat yang diderita para
perokok, mereka pun sepakat untuk mengharamkannya. Sayangnya, umat
Islam masih saja menganggap selama tidak ada ayat yang tegas atau
hadits yang eksplisit yang mengharamkan rokok, maka mereka masih
menganggap rokok itu halal, atau minimal makruh.

Awalnya belum ada ulama yang mengharamkan rokok, kecuali hanya
memakruhkan. Dasar pemakruhannya pun sangat berbeda dengan dasar
pengharamannya di masa sekarang ini.

Dahulu para ulama hanya memandang bahwa orang yang merokok itu
mulutnya berbau kurang sedap. Sehingga mengganggu orang lain dalam
pergaulan. Sehingga kurang disukai dan dikatakan hukumnya makruh.

Sebagian kiyai di negeri kita yang punya hobi menyedot asap rokok,
kalau ditanyakan tentang hukum rokok, akan menjawab bahwa rokok itu
tidak haram, tetapi hanya makruh saja.

Mengapa mereka memandang demikian? Karena literatur mereka adalah
literatur klasik, ditulis beberapa ratus tahun yang lalu, di mana
pengetahuan manusia tentang bahaya nikotin dan zat-zat beracun di
dalam sebatang rokok masih belum nyata terlihat. Tidak ada fakta dan
penelitian di masa lalu tentang bahaya sebatang rokok.

Maka hukum rokok hanya sekedar makruh lantaran membuat mulut berbau
kurang sedang serta mengganggu pergaulan.

Penelitian Terbaru
Seandainya para kiyai itu tidak hanya terpaku pada naskah lama dan
mengikuti rekan-rekan mereka di berbagai negeri Islam yang sudah maju,
tentu pandangan mereka akan berubah 180 derajat.

Apalagi bila mereka membaca penelitian terbaru tentang 200-an racun
yang berbahaya yang terdapat dalam sebatang rokok, pastilah mereka
akan bergidik. Dan pastilah mereka akan setuju bahwa rokok itu
memberikan madharat yang sangat besar, bahkan teramat besar.

Pastilah mereka akan menerima bahwa hukum rokok itu bukan sekedar
makruh lantaran mengakibatkan bau mulut, tapi mereka akan sepakat
mengatakan bahwa rokok itu haram, lantaran merupakan benda mematikan
yang telah merenggut jutaan nyawa manusia. Prosentase kematian
disebabkan rokok adalah lebih tinggi dibandingkan karena perang dan
kecelakaan lalulintas.

Badan kesehatan dunia WHO menyebutkan bahwa di Amerika, sekitar 346
ribu orang meninggal tiap tahun dikarenakan rokok. Dan tidak kurang
dari 90% dari 660 orang yang terkena penyakit kanker di salah satu
rumah sakit Sanghai Cina adalah disebabkan rokok.

Penelitian juga menyebutkan bahwa 20 batang rokok per hari akan
menyebabkan berkurangnya 15% hemoglobin, yakni zat asasi pembentuk
darah merah.

Seandainya para kiyai mengetahui penelitian terakhir bahwa rokok
mengandung kurang lebih 4.000 elemen-elemen dan setidaknya 200 di
antaranya dinyatakan berbahaya bagi kesehatan, pastilah pandangan
mereka akan berubah.

Racun utama pada rokok adalah tar, nikotin dan karbon monoksida. Tar
adalah substansi hidrokarbon yang bersifat lengket dan menempel pada
paru-paru. Nikotin adalah zat adiktif yang mempengaruhi syaraf dan
peredaran darah. Zat ini bersifat karsinogen dan mampu memicu kanker
paru-paru yang mematikan. Karbon monoksida adalah zat yang mengikat
hemoglobin dalam darah, membuat darah tidak mampu mengikat oksigen.

Efek racun pada rokok ini membuat pengisap asap rokok mengalami
resiko14 kali lebih bersar terkena kanker paru-paru, mulut, dan
tenggorokan dari pada mereka yang tidak menghisapnya.

Penghisap rokok juga punya kemungkinan 4 kali lebh besar untuk terkena
kanker esophagus dari mereka yang tidak menghisapnya.

Penghisap rokok juga beresiko 2 kali lebih besar terkena serangan
jantung dari pada mereka yang tidak menghisapnya.

Rokok juga meningkatkan resiko kefatalan bagi penderita pneumonia dan
gagal jantung serta tekanan darah tinggi. Menggunakan rokok dengan
kadar nikotin rendah tidak akan membantu, karena untuk mengikuti
kebutuhan akan zat adiktif itu, perokok cenderung menyedot asap rokok
secara lebih keras, lebih dalam, dan lebih lama.

Tidak ada satu pun orang yang bisa menyangkal semua fakta di atas,
karena merupakan hasil penelitian ilmiah. Bahkan perusahaan rokok poun
mengiyakan hal tersebut, dan menuliskan pada kemasannya kalimat
berikut:

MEROKOK DAPAT MENYEBABKAN SERANGAN JANTUNG, IMPOTENSI DAN GANGUGAN
KEHAMILAN DAN JANIN.

Kalau produsen rokok sendiri sudah menyatakan bahaya produknya
berbahaya dan mendatangkan penyakit, bagaimana mungkin konsumen masih
mau mengingkarinya?

06 September 2008

Ciri-ciri Kurang Gizi

http://www.pikiran- rakyat.com/ cetak/2005/ 1205/26/0315. htm

Ciri-ciri Kurang Gizi
GIZI buruk adalah kondisi tubuh yang tampak sangat kurus karena makanan
yang dimakan setiap hari tidak dapat memenuhi zat gizi yang dibutuhkan,
terutama kalori dan protein.

Tanda awal gizi buruk: berat badan anak, letak titiknya dalam KMS, jauh
berada di bawah garis merah (BGM). Minta nasihat kepada kader atau petugas
kesehatan bila berat badan anak lebih dari 3 bulan turun terus (tidak
naik).

Gejala klinis busung lapar antara lain warna rambut penderita jadi
kemerahan, tubuh kurus kering, dan tulang nyaris terbalut kulit (marasmus).
Jika gejala klinis tidak tertangani dengan baik, perut penderita makin
buncit dan kaki membengkak (kwashiorkor) .

Tanda-tanda anak marasmus (kurang kalori)

(1) Anak tampak sangat kurus, tinggal tulang terbungkus kulit, dan pantat
keriput. (2) Wajah seperti orang tua (monkey face). (3) Kulit keriput,
kering, dan kusam. (4) Rambut tipis, kemerahan, dan mudah dicabut. (5) Anak
cengeng dan rewel.

Tanda-tanda anak kwashiorkor (kurang protein)

(1) Bengkak (oedema) hampir di seluruh tubuh, terutama punggung dan kaki.
(2) Muka bulat dan sembap (moon face). (3) Mata kuyu dan sayu. (4) Rambut
tipis, jarang, dan mudah dicabut. (5) Terdapat bercak merah-hitam pada
kulit, kadang terkelupas. (6) Cengeng, rewel, dan "apatis".

Penanggulangan

(1) Ibu memberikan aneka ragam makanan dalam porsi kecil dan sering kepada
anak sesuai kebutuhan dan petunjuk cara pemberian makanan dari rumah
sakit/dokter/ puskesmas.

(2) Bila balita dirawat, perhatikan makanan yang diberikan. Lalu, teruskan
di rumah.

(3) Berikan hanya ASI, bila bayi berumur kurang dari 4 bulan.

(4) Usahakan disapih setelah berumur 2 tahun

(5) Berikan makanan pendamping ASI (bubur, buah-buahan, biskuit, dsb.) bagi
bayi di atas 4 bulan dan berikan bertahap sesuai umur.

Untuk pencegahan

(1) Timbang balita tiap bulan ke posyandu

(2) Lapor ke petugas kesehatan tentang perkembangan kesehatan anak maupun
berat badan anak. (Hazmir-Uwie/ "PR")***

==========
Apakah perbedaan gizi buruk - busung lapar? > dan ciri2nya anak
tersebut apa yach?

dear mbak popy,

gizi buruk yang parah (protein energy malnutrition) biasanya
mengakibatkan kwashiorkor, marasmus ataupun kwashiorkor- marasmus.

salah satu identifikasi mudah kwashiorkor adalah ditemukannya
oedema (penumpukan cairan) jadi sang anak "nampak gemuk". growth
failure, wasting, hair changes, mental changes, dermatosis, poor
appetite, severe anemia, fatty liver adalah beberapa ciri yang
lain.

marasmus sendiri mudahnya teridentifikasi dengan keadaan tubuh
yang sangaat wasting (W/H). biasanya anaknya akan terlihat kurus
sekali hingga hanya nampak spt kulit yang membalut tulang. ciri
lain yang berbeda dg kwashiorkor adalah tidak adanya oedema,
perubahan warna rambut sedikit terjadi, mental changes relatif
uncommon, tidak adanya dermatosis, good appetite, less severe
anemia dan tidak adanya fatty liver.

kwashiorkor- marasmus adalah perpaduan keduanya.

untuk penyebabnya sendiri, pada era 50'an-70'an muncul teori
defisiensi protein sbg penyebab utama kwashiorkor dan defisiensi
energi sbg akar penyebab terjadinya marasmus (teori ini
belakangan hari banyak dikritik karena ditemukannya temuan hasil2
penelitian yang berkontradiksi dg pernyataan teori tsb).

sejak th 1970 muncul teori yang baru ttg severe form
malnutrition: penyebab kondisi marasmus dan/atau kwashiorkor
adalah inadequate diet in both energy and protein, perbedaannya
hanya terletak pada child's response dan child's requirements.
sejak era 70'an ini kedua bentuk severe malnutrition
diklasifikasikan sebagai Protein-Energi Malnutrition (PEM).

teori terbaru yang muncul sejak th 80'an menerangkan bahwa
penyebab kwashiorkor dan/atau marasmus adalah inadequate diet
baik makronutrisi ataupun mikronutrisi. khusus utk kasus
kwashiorkor ditambah and/or spesific nutrient deficiency and
certain noxae (infeksi, toxins, medication, trauma) leading to
free radical damage (Golden 1985).

oh iya..bila mbak memiliki akses internet yang cukup cepat,
mungkin mbak dapat melihat bahan perkuliahan yang sedikit
membahas ttg malnutrisi protein energi ini di:

http://ocw.jhsph. edu/courses/ InternationalNut rition/PDFs/ Lecture2. pdf

Vaksin MMR Bukan Penyebab Autisme

Jumat, 5 September 2008 | 11:00 WIB

KEKHAWATIRAN para orangtua akan isu vaksin yang dapat menyebabkan austisme tampaknya akan semakin pudar. Sebuah riset di Amerika Serikat (AS) membuktikan, tidak hubungan sama sekali antara autisme dengan pemberian vaksin MMR (measles, mumps, rubella).

Riset yang telah dipubliskasi Rabu kemarin dalam jurnal Public Library of Science edisi online ini adalah penelitian yang mematahkan riset sebelumnya oleh Dr Andrew Wakefield dari Royal Free Hospital, Inggris. Dalam risetnya yang kemudian ditarik dari jurnal Lancet, Wakefield mengindikasikan adanya kaitan antara vaksin MMR dan autisme.

Para ahli dari Columbia University New York dan Centers for Disease Control (CDC) membantah indikasi riset Wakefield setelah meneliti sinyal-sinyal penanda genetika dari virus measles (campak) pada sampel jaringan usus 25 anak pengidap autisme yang juga menderita gangguan pencernaan.

Mereka membandingkan sampel tersebut dengan 13 anak lainnya yang bukan autis, tapi mengidap gangguan pencernaan. Jaringan ini lalu dianalisa di tiga laboratorium berbeda dengan sistem pemeriksaan acak.

Menurut peneliti, hasil riset ini telah menyediakan bukti kuat yang mematahkan dugaan adanya hubungan autisme dengan virus campak pada saluran pencernaan ataupun paparan MMR. "Kami tak menemukan hubungan antara masa pemberian vaksin MMR dan kejadian penyakit gastrointestinal ataupun autisme," ungkap pimpinan riset, Dr Mady Hornig.

Di AS sendiri, klaim pengadilan federal telah mempertimbang komplain para orangtua dalam setahun terakhir. CDC mengatakan, kekhawatiran orangtua akan risiko vaksin membuat mereka enggan memberikan vaksin MMR kepada anak sehingga memicu peningkatan kasus campak di AS dan Eropa.

Penyakit campak menyebabkan kematian pada sekurangnya 250.000 orang per tahun, dan korban sebagian besar adalah anak-anak di negara berkembang. Berdasarkan data CDC, satu dari 150 anak di Amerika mengidap autisme.

http://www.kompas. com/read/ xml/2008/ 09/05/11005080/ vaksin.mmr. bukan.penyebab. autisme

02 September 2008

MASTITIS

ASI (Air Susu Ibu) merupakan makanan utama untuk bayi hingga usia empat bulan, bahkan jika masih memungkinkan dapat diteruskan pemberiannya. Agar dapat menyusui dengan baik dan lancar, sebagai ibu harus menjaga kesehatan diri termasuk di antaranya kebersihan payudara.
Kadang-kadang, pada minggu pertama setelah melahirkan, payudara ibu akan terasa bengkak. Karena adanya sumbatan pada saluran ASI. Bila hal tersebut dibiarkan, lama-lama akan terjadi infeksi dan menyebabkan peradangan pada payudara, yang disebut mastitis. Yakni peradangan yang terjadi pada payudara. Bisa terjadi pada satu atau kedua payudara sekaligus.
Penyebabnya pasti dari mastitis belum diketahui, namun, biasanya dari bakteri jenis staphylococcus aureus. Umumnya, terjadi pada minggu ke 2-7 setelah persalinan atau lebih awal atau malah lebih lama dari itu. Meskipun demikian, mastitis dapat juga terjadi pada wanita yang tidak menyusui ataupun hamil. Bakteri biasanya masuk melalui puting susu yang pecah-pecah atau terluka.
GEJALANYA
Gejala mastitis hampir sama dengan payudara yang membengkak karena sumbatan saluran ASI. Pada mastitis, payudara terasa nyeri, teraba keras, dan tampak memerah. Permukaan kulit dari payudara yang terkena infeksi juga tampak seperti pecah-pecah, dan badan terasa demam seperti hendak flu. Bila karena sumbatan tanpa infeksi, biasanya dbadan tidak terasa nyeri dan tidak demam. Pada payudara juga tidak teraba bagian yang keras dan nyeri, serta merah.
Namun terkadang kedua hal tersebut sulit untuk dibedakan. Gampangnya, bila terjadinya sumbatan pada saluran ASI, namun tidak terasa nyeri pada payudara, dan permukaan kulit tidak pecah-pecah maka hal itu bukan mastitis. Bila terasa sakit pada payudara namun tidak disertai adanya bagian payudara yang mengeras, maka hal tersebut juga bukan mastitis.
FAKTOR PREDISPOSISI
Mengapa tidak semua wanita dapat terkena mastitis? Memang, banyak faktor yang menyebabkan seseorang menderita masalah itu. Di antaranya adalah daya tahan tubuh seorang wanita, apalagi setelah melahirkan, biasanya masih terasa lelah. Hal itu akan memyebabkan daya tahan seseorang menurun sehingga menjadi mudah sakit.
Selain itu, bila ibu tidak teratur untuk memyusui pada bayinya, sehingga payudara menjadi penuh, maka dapat mempermudah terjadinya mastitis. Jika seseorang sudah pernah menderita itu, maka tidak menutup kemungkinan akan lebih mudah terkena lagi.

PENGOBATAN
Karena sebagian besar mastitis disebabkan oleh bakteri, maka pengobatan yang tepat dengan pemberian antibiotika. Mintalah pada dokter antibiotika yang baik dan aman untuk ibu sedang menyusui. Selain itu, bila badan terasa panas, ibu dapat meminum obat turun panas. Kemudian. untuk bagian payudara yang terasa keras dan nyeri, dapat dikompres dengan menggunakan air dingin untuk mengurangi rasa nyeri.
Bila tidak tahan nyeri, dapat meminum obat penghilang rasa sakit. Istirahat yang cukup amat diperlukan untuk mengembalikan kondisi tubuh menjadi sehat kembali, disamping itu makan dan minum yang bergizi, minum banyak air putih juga akan membantu menurunkan demam. Biasanya rasa demam dan nyeri itu akan hilang dalam dua atau tiga hari dan Anda akan mampu beraktivitas seperti semula.
PENCEGAHAN
Sebenarnya untuk mencegah terjadinya mastitis sama halnya dengan melakukan pengcegahan terhadap penyakit lain. Para ibu diharapkan untuk istirahat yang cukup. Secara teratur menyusui bayinya, setiap dua atau tiga jam sekali sesuai ritme perut bayi, akan dapat mencegah payudara bengkak dari infeksi.
Usahakan jangan pernah menunda atau melewatkan waktu menyusui. Gunakan BH yang sesuai dengan ukuran payudara Anda. Selalu menjaga kebersihan payudara dengan cara membersihkan dengan kapas dan air hangat.